Mengawali tahun 2026, PP PBSI gelar rapat analisa dan evaluasi kerja Pelatnas. Lebih konsisten dan Olimpiade 2028, jadi target jangka panjang tim Cipayung.
Demikian disampaikan Ketua Umum PP PBSI M Fadil Imran, yang menekankan soal pentingnya disiplin, fokus, dan konsistensi dalam menjalankan program kerja masing-masing.
Fadil menilai, Pelatnas merupakan pusat dari seluruh arah kebijakan, kerja organisasi, dan pengabdian PBSI yang bermuara pada pembinaan prestasi dan masa depan bulutangkis Indonesia.
Mengawali tahun kerja, PBSI memilih pendekatan yang realistis terhadap tantangan dan persaingan internasional yang semakin ketat. Hal ini penting mengingat tahun 2025, perjalanan tim bulutangkis Indonesia belum konsisten. Terutama di turnamen-turnamen Super 1000 seperti All England, Kejuaraan Asia, dan Kejuaraan Dunia.
Setelah musim 2024 sukses rebut dua gelar di All England, dan satu gelar di Kejuaraan Asia. Tapi 2025 justru gagal. Pencapaian terbaiknya Indonesia menjadi runner up All England.
Bahkan di turnamen penutup BWF World Tour Finals hanya sampai babak semifinal melalui pasangan non-Pelatnas Sabar Karyaman Gutama/Mohamad Reza Pahlevi Isfahani.
Adapun prestasi terbaik tim Indonesia ialah gelar China Open 2025 melalui ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri.
“Tahun ini harus kita jalani dengan disiplin, fokus, dan konsistensi. Setiap program harus terukur dan berdampak langsung pada kesiapan atlet, baik dari sisi teknis, fisik, mental, maupun manajemen pendukung,” tegas Fadil dalam keterangan tertulis PBSI.
Melalui rapat analisa dan evaluasi ini, PBSI menekankan bahwa pembinaan prestasi jangka pendek harus berjalan secara rapi dan terintegrasi, tanpa kerja yang terpisah-pisah atau bersifat rutinitas semata. Seluruh bidang diminta untuk memastikan program kerja saling terhubung dan selaras dengan kebutuhan Pelatnas.
Di sisi lain, PBSI tetap menempatkan Olimpiade 2028 sebagai target jangka panjang. Seluruh langkah strategis yang dibahas mulai dari pembinaan usia muda, pengelolaan Pelatnas, hingga penguatan tata kelola organisasi merupakan bagian dari proses berkelanjutan menuju prestasi puncak.
Fadil juga mengingatkan bahwa kekuatan PBSI tidak hanya terletak pada atlet di lapangan, tetapi pada solidaritas organisasi di belakang mereka. Sinergi pengurus, pelatih, tim pendukung, dan seluruh ekosistem bulutangkis nasional menjadi fondasi utama dalam mencapai target bersama.
Menutup rangkaian rapat, Fadil mengucapkan terima kasih atas kerja keras seluruh jajaran PBSI di tahun 2025 serta mengajak semua pihak untuk menjadikan tahun kerja ini sebagai periode yang fokus, tenang, dan berorientasi hasil, dengan evaluasi yang objektif serta perbaikan yang cepat dan berkelanjutan.
“Mari kita mulai tahun ini dengan niat yang baik, langkah yang selaras dan tujuan yang jelas. Apa yang kita lakukan di PBSI bukan sekadar tugas organisasi, tetapi amanah untuk menjaga bulutangkis sebagai kebanggaan dan kegembiraan bangsa,” pungkas Fadil.






