Tidak cuma pelari yang butuh istirahat. Sepatu yang biasa dipakai pun demikian karena rotasi itu penting. Buat apa?
Dengan semakin hype-nya lari di kalangan masyarakat urban dalam lima tahun terakhir, produsen sepatu pun berlomba-lomba mengeluarkan produk terbaiknya.
Biasanya para pelari di era sekarang punya lebih dari satu pasang sepatu. Penggunaan sepatu itu pun berbeda-beda, biasanya untuk harian atau daily trainer, lalu tempo run, dan juga saat dipakai long run serta lomba.
Tapi, seperti halnya pelari baik profesional maupun amatir, ada kalanya sepatu juga butuh istirahat alias recovery. Layaknya tubuh, sepatu butuh waktu untuk bisa mengembalikan performanya seperti sedia kala.
Memakai satu jenis sepatu berulang kali disebut berisiko untuk pengguna maupun sepatunya.
“Tidak hanya pelari, sepatu juga butuh recovery. Tidak disarankan satu sepatu dipakai setiap hari. Selain merusak sepatu, itu justru bisa menyebabkan cedera,” ujar salah satu penggiat lari, Coach Tedjo, dalam keterangan kepada media.
Tedjo menjelaskan bahwa midsole sepatu-terutama yang digunakan untuk performa tinggi-membutuhkan waktu untuk kembali ke bentuk optimal setelah dipakai berlari.
Jika dipaksakan dipakai setiap hari, daya pantul dan stabilitas sepatu bisa menurun, yang akhirnya berdampak pada risiko cedera pelari.
Selain itu, Tedjo juga menyoroti pentingnya edukasi untuk para pelari khususnya mereka yang FOMO (fear of missing out) soal sepatu. Mereka biasanya langsung membeli sepatu lari yang menggunakan carbon plate untuk harian.
Padahal sepatu itu biasanya dipakai oleh para profesional saat race. Oleh karenanya, penting untuk para pelari punya sepatu lebih dari satu pasang.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
“Lari itu buat sehat, bukan mencari penyakit. Jangan melihat orang lain, karena target setiap orang berbeda. Pelari pace kencang biasanya pakai carbon dalam 7 hari hanya 2 kali. Daily run-nya tetap pakai sepatu daily,” jelasnya.
Itulah mengapa salah satu produsen sepatu, XTEP, mengeluarkan beberapa seri untuk penggunaan berbeda, seperti Xtep X160 dan X160 Pro. Sepatu X160 Pro digunakan Tedjo saat half marathon (HM) dengan pace 3 menit per kilometer.
“Foam-nya sangat aman, responsif, dan pantulan plate-nya bagus. Cocok untuk pelari yang mau race FM dan HM,” ungkapnya.
Menurut Direktur XRUN, Dandy Ariesandy, XTEP memiliki keunikan dibandingkan brand sepatu lari lainnya. Salah satunya, dengan mendirikan Xtep Running Club yang memberikan service untuk pelari di segala level.
Di antaranya, memberikan pelatihan untuk pelari pemula atau ke pelari elite agar bisa memecahkan rekor. Dia juga berharap masyarakat bisa makin sadar akan pentingnya hidup sehat.
“Dengan ini, kami menciptakan integrasi yang dalam dengan dunia lari dan komunitasnya,” paparnya.
“Kami berharap ke depannya, XTEP akan menjadi bagian dari lifestyle masyarakat Indonesia dan menjadi salah satu pilihan utama untuk keperluan aktivitas olah raga terutama lari dan juga aktivitas sehari-hari,” demikian dia.
