Indonesia menyiapkan dapur khusus untuk guna memastikan kebutuhan asupan nutrisi atlet ASEAN Para Games 2025.
Dapur umum yang beroperasi di Chayada Garden House & Resort Hotel, Nakhon Ratchasima, ini disediakan untuk menyediakan kenyamanan bagi para atlet selama masa persiapan akhir hingga berlangsungnya ajang ASEAN Para Games 2025 di Thailand, pada 20-26 Januari 2026.
Wakil Sekretaris Jenderal National Paralympic Committee Indonesia (NPC Indonesia) Rima Ferdianto menjelaskan inisiatif mengoperasikan dapur umum ini berangkat dari keluhan atlet yang kurang cocok dengan menu yang disediakan oleh pihak penyelenggara.
“Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi atlet. Kami sampai harus menyiapkan dapur umum seperti ini, karena dari pengalaman event sebelumnya, banyak atlet yang kurang cocok dengan masakan tuan rumah,” kata Rima Ferdianto, dalam keterangan tertulis Sabtu (17/1/2026).
Selain itu, Rima juga menyoroti sejumlah permasalahan kualitas konsumsi dari sejumlah cabor yang dialami kontingen Indonesia, sehingga dapur umum langsung diminta menambah produksi makanan untuk mencukupi kebutuhan sarapan sebanyak 300 porsi.
“Di ASEAN Para Games 2025 ini, ada beberapa venue dari tujuh cabang olahraga, yang makanannya kurang layak dibanding venue yang lain. Nah, ini banyak muncul keluhan dari atlet-atlet kita,” ujar Rima.
“Dapur umum yang seharusnya dioperasionalkan untuk makan siang, ini harus kami operasikan juga untuk sarapan demi memenuhi beberapa cabor yang makanannya kurang proper. Kami khawatir apabila kurang nutrisi di pagi hari, ketika kompetisi nanti tidak optimal,” imbuhnya.
Kebersihan dan ketepatan waktu dalam mengolah makanan untuk para atlet dan ofisial Indonesia selama ASEAN Para Games 2025 ini menjadi aspek paling krusial yang diperhatikan. Selain memastikan sajian harus higienis, distribusi konsumsi menuju setiap lokasi juga mesti tepat waktu.
Head Chef yang bertugas menyediakan konsumsi bagi kontingen Indonesia, Muhammad Shaban Farooq, menjelaskan bahwa pihaknya mengolah sebanyak 900 porsi makanan setiap hari. 300 porsi disiapkan untuk waktu sarapan, sedangkan 600 porsi lainnya diedarkan saat makan siang tiba.
Shaban bertanggung jawab dalam menentukan menu-menu yang akan diolah setiap harinya. Setelah itu, ia akan menyusun daftar bahan makanan dan menjelaskan kepada seluruh staf bagaimana cara memasak setiap menu. Ini untuk memastikan setiap produk bisa tereksekusi sesuai dengan standar, baik itu tingkat kematangan, hingga cita rasa.
“Setiap staf yang bertugas wajib menggunakan masker, sarung tangan, dan penutup kepala. Selain itu, kami juga harus memisahkan daging mentah dan daging matang untuk memastikan semua bahan tercegah dari kontaminasi,” ujar Shaban.
“Selain itu, penyimpanan bahan-bahan makanan juga harus diperhatikan. Misalnya, jika kami membeli bahan daging hari ini untuk dimasak besok, kami harus menyimpannya dalam suhu yang ideal di freezer,” imbuhnya.
Tantangan kedua yang dihadapi Shaban ialah ketepatan waktu dalam memproduksi setiap menu. Mengolah ratusan porsi sekali masak, ditambah proses pengemasan setiap porsi, harus sesuai dengan jadwal distribusi konsumsi kepada seluruh cabor yang dilayani.
“Jika harus mempersiapkan sarapan maupun makan siang untuk 500 lebih orang, tantangan terbesarnya adalah waktu. Kami harus tepat waktu. Terkadang ini membuat kami cukup kelelahan,” ujar chef asal Pakistan ini.
Shaban juga menyadari salah satu syarat penting dalam melayani kontingen Indonesia, yakni kepatuhan halal. Dia memiliki prosedur yang sangat ketat dalam menentukan asal-usul bahan yang dibeli. Ia menjamin seluruh produk dan proses pengolahan sudah sesuai standar halal.
“Sebagai seorang muslim, saya di sini sangat ketat dalam membeli setiap daging. Misalnya, saat berbelanja daging sapi dan ayam, kami harus mencarinya di toko yang bersertifikat halal. Jika kami harus membeli bahan lain seperti lumpia atau makanan beku, kami juga harus memastikan label halal dalam produk tersebut,” kata dia.






